Berita Terkini

Obama Serukan Rencana Pembangunan Prasarana S

Jakarta, Presiden Barack Obama menyerukan rencana pembangunan prasarana senilai 50 milyar dolar AS, se...

Selengkapnya

DPRD Pamekasan Sayangkan Tidak Adanya Operasi

News image

Pamekasan, Ketua Komisi B DPRD Pamekasan Hosnan Achmadi menyayangkan, hingga mendekati Lebaran rupan...

Selengkapnya

Pertemuan RI-Malaysia Harus Hasilkan Keputusa

Tanjungpinang, Pertemuan Menteri Luar Negeri RI dan Malaysia di Kinabalu hendaknya menjadi dasar keing...

Selengkapnya

Berita Pilihan

Error: Any articles to show

Obama Serukan Rencana Pembangunan Prasarana Senilai 50 Milyar Dolar
Selasa, 07 September 2010 20:07    PDF Cetak E-mail

Jakarta, Presiden Barack Obama menyerukan rencana pembangunan prasarana senilai 50 milyar dolar AS, sebagai bagian dari upaya untuk mengangkat kembali ekonomi Amerika yang masih terpuruk.

Rencana itu menelan investasi sekitar 50 milyar dolar AS dalam bentuk jalan, rel kereta api, dan bandara serta kereta api kecepatan tinggi dan pendirian bank prasarana. Sistem prasarana AS sudah lama dipandang kurang dana dan mendapat penilaian yang buruk dari berbagai badan pemerintah.

Perkembangan ini berlangsung di tengah tanda-tanda bahwa ekonomi AS sedang goyah. Hari Senin lalu, Departemen Tenaga Kerja AS mengumumkan ekonomi negara itu kehilangan 54.000 lapangan kerja lagi, sedangkan laju pengangguran naik menjadi 9,6 persen dari 9,5 persen di bulan Juli. Seperti dikutip dari situs Kantor Berita Reuters di depan para pendukungnya, Presiden Obama berjanji agar masyarakat Amerika untuk mendapatkan pekerjaannya kembali sehingga memperbaiki perekonomian Amerika Serikat.

"Saya akan tetap berjuang setiap hari, jam, menit agar orang-rang kembali bekerja dan memperbarui mimpi Amerika. Tidak hanya untuk keluarga kita dan kalian, tetapi juga untuk generasi masa mendatang. Ssaya bias bisa jamin itu," tegas Obama.

Obama juga menyerukan pendirian bank prasarana yang akan berkonsentrasi untuk mendanai proyek prasarana nasional dan regional. Proposal ini memerlukan persetujuan Kongres. Menurut para analis, persetujuan Kongres belum pasti diperoleh di tengah kekhawatiran soal jumlah defisit federal. Pengumuman mengenai prasarana ini menandai awal satu pekan Obama berkonsentrasi ke ekonomi. Masalah ini merupakan masalah terpenting bagi pemilih dalam pemilihan Kongres bulan November mendatang.

(Dian Tri Hapsari-Reuters/HF)

 
Masyarakat Internasional Kecam Hukum Rajam Iran
Selasa, 07 September 2010 13:30    PDF Cetak E-mail
bernard_kouchnerTekanan terhadap pemerintah Iran dari masyarakat internasional semakin meluas, terkait kasus hukum rajam hingga mati bagi seorang perempuan bernama Sakineh Mohammadi Ashtiani karena kasus perzinahan.

Vatikan menyatakan akan mengajukan seruan diplomatis kepada Iran terkait dengan hukuman rajam hingga mati bagi Sakineh Mohammadi Ashtiani karena kasus perzinahan.

Dalam sebuah pernyataan, juru bicara Vatikan, Federico Lombardi, mengatakan ''Paus mengikuti pemberitaan ini dengan penuh perhatian dan komitmen. Vatikan mungkin akan menggunakan jalur diplomatis guna menyelamatkan Sakineh, tetapi kepada kantor berita Associated Press dia mengatakan tidak ada permintaan resmi untuk menginterfensi keputusan yang telah dibuat.

Pernyataan ini keluar setelah anak lelaki Sakineh, Sajad Ghaderzadeh dalam sebuah wawancara dengan kantor berita Italia Adnkronos, memohon pertolongan kepada Paus Benediktus XVI dan pemerintah Italia untuk menyelamatkan hidup ibunya. Selama ini Italia memang dikenal memiliki hubungan ekonomi yang kuat dengan Iran.

Menteri Luar Negeri Italia, Franco Frattini, juga menanggapi permohonan ini dengan meminta Teheran untuk mempertimbangkan pemberian pengampunan.

Sementara itu seperti dikutip dari situs media televisi BBC, Mentri Luar Negeri Perancis, Bernard Kouchner, minta Uni Eropa agar mempertimbangkan pendekatan-pendekatan baru untuk mendesak pemerintah Iran sehubungan kasus Ashtiani. Ia juga berjanji akan melakukan segala pendekatan untuk menyelamatkan Ashtiani.

"Hukuman ini tidak boleh dilakukan, ini sangat tidak dapat dibayangkan perlakuan ini tidak manusiawi dan kembali ke abad pertengahan, hukuman ini harus ditempatkan pada konteks dan eksekusi ini harusnya mendapatkan perhatian dari presiden Ahmadinejad", kata Bernard Kouchner.

Rencana hukuman rajam ini sendiri untuk sementara ditunda hingga Juli mendatang. Tetapi para pegiat Hak Asasi Manusia tetap mengkhawatirkan meski terbebas dari hukum rajam dengan cara dilempari batu, tetapi wanita Iran ini masih bisa dihukum mati dengan cara digantung.

Kasus hukuman rajam ini terjadi pada bulan Mei 2006, setelah pengadilan di provinsi Azerbaijan Timur menyatakan Sakineh Ashtiani bersalah karena melakukan hubungan gelap dengan dua orang lelaki setelah suaminya meninggal, dia kemudian dijatuhi hukuman cambuk 99 kali pada sabtu lalu. (Dian Tri Hapsari/DS)
 
Warga Afghanistan Protes Rencana Pembakaran Al Qur'an
Selasa, 07 September 2010 10:34    PDF Cetak E-mail
afghan_protest1Ratusan warga Afghanistan memprotes rencana sebuah kelompok keagamaan di Florida, Amerika Serikat, yang akan membakar Alquran untuk memperingati sembilan tahun tragedi serangan 11 September.

Seperti dikutip dari media Reuters, dalam aksi unjuk rasa di Kota Kabul itu mereka juga menuntut kematian Presiden Barack Obama. Sekitar 500 orang berkumpul meneriakkan dukungan terhadap Islam dan menuntut kehancuran AS saat mendengar pidato dari anggota parlemen Afghanistan.

Aksi protes ini sempat diwarnai insiden pelemparan batu saat konvoi pasukan Amerika Serikat melewati mereka. Namun aksi tersebut tidak berbuntut panjang karena ulama yang turut serta dalam protes ini berhasil meredam amarah pengunjuk rasa.

Seperti yang diberitakan juga oleh Associated Press, Gereja Dove World Outreach Center di Florida, AS, mengkampanyekan aksi pembakaran Alquran. Namun hingga kini belum ada izin dari otoritas setempat untuk melakukan aksi tersebut.

Kedutaan Besar AS di Kabul sudah mengeluarkan pernyataan mengecam rencana tersebut. Kedubes menyatakan mereka menyesali sebuah upaya yang dilakukan oleh kelompok yang dianggap mencoba melukai kelompok masyarakat lain. (Dian/DS)
 


Halaman 1 dari 265